Friday, June 3, 2011

Secarik surat untuk dokter dan mahasiswa kedokteran

Assalamu'alaikum, teman sejawatku ini ada secarik surat yang tidak ada salahnya teman sejawatku mahasiswa kedokteran dan para dokter untuk dibaca. Ayo cekidot baca dan hayati :

" Rekan sejawat yang terhormat,
Jika Anda ingin menjadi dokter untuk bisa kaya raya, maka segeralah kemasi barang-barang Anda.

Mungkin fakultas lain lebih tepat untuk mendidik anda menjadi businessman bergelimang rupiah

Daripada Anda harus mengorbankan pasien dan keluarga Anda sendiri demi mengejar kekayaan.



Jika Anda ingin menjadi dokter untuk mendapatkan kedudukan sosial tinggi di masyarakat, dipuja dan didewakan, maka silahkan kembali ke Mesir ribuan tahun yang lalu dan jadilah fir’aun di sana. Daripada Anda di sini harus menjadi arogan dan merendahkan orang lain di sekitar Anda hanya agar Anda terkesan paling berharga.



Jika Anda ingin menjadi dokter untuk memudahkan mencari jodoh atau menarik perhatian calon mertua, mungkin lebih baik Anda mencari agency selebritis yang akan mengorbitkan Anda sehingga menjadi artis pujaan para wanita. Daripada Anda bersembunyi di balik topeng klimis dan jas putih necis, sementara Anda alpa dari makna dokter yang sesungguhnya.



Dokter tidak diciptakan untuk itu, kawan.



Memilih menjadi dokter bukan sekadar agar bisa bergaya dengan BMW keluaran terbaru, bukan sekadar bisa terihat tampan dengan jas putih kebanggaan, bukan sekadar agar para tetangga terbungkuk-bungkuk hormat melihat kita lewat.



Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengabdian. Mengabdi pada masyarakat yang masih akrab dengan busung lapar dan gizi buruk. Mengabdi pada masyarakat yang masih sering mengunjungi dukun ketika anaknya demam tinggi.



Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan empati, ketika dengan lembut kita merangkul dan menguatkan seorang bapak tua yang baru saja kehilangan anaknya karena malaria.



Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kemanusiaan, ketika kita tergerak mengabdikan diri dalam tim medis penanggulangan bencana dengan bayaran cuma-cuma.



Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kepedulian, saat kita terpaku dalam sujud-sujud panjang, mendoakan kesembuhan dan kebahagiaan pasien-pasien kita.



Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan berbagi, ketika seorang tukang becak menangis di depan kita karena tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit anaknya yang terkena demam berdarah. Lalu dengan senyum terindah yang pernah disaksikan dunia, kita menepuk bahunya dan berkata, “jangan menangis lagi, pak, Insya Allah saya bantu pembayarannya.”



Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan kasih sayang, ketika dengan sepenuh cinta kita mengusap lembut rambut seorang anak dengan leukemia dan berbisik lembut di telinganya,”dik, mau diceritain dongeng nggak sama oom dokter?”



Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan ketegasan, ketika sebuah perusahaan farmasi menjanjikan komisi besar untuk target penjualan obat-obatnya, lalu dengan tetap tersenyum kita mantap berkata, “maaf, saya tidak mungkin mengkhianati pasien dan hati nurani saya”



Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengorbanan, saat tengah malam tetangga dari kampung sebelah dengan panik mengetuk pintu rumah kita karena anaknya demam dan kejang-kejang. Lalu dengan ikhlas kita beranjak meninggalkan hangatnya peraduan menembus pekat dan dinginnya malam.



Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan terjal lagi mendaki untuk meraih cita-cita kita. Bukan, bukan kekayaan atau penghormatan manusia yang kita cari. Tapi ridha Allah lah yang senantiasa kita perjuangkan.



Yah, memilih menjadi dokter adalah memilih jalan menuju surga, tempat di mana dokter sudah tidak lagi perlu ada…

NB :

Ini bukan provokasi untuk menjadi dokter miskin, bukan juga mengatakan bahwa dokter tidak perlu penghormatan atau hal-hal duniawi lainnya. Tulisan ini hanya sekadar sebuah nasihat untuk diri sendiri dan rekan sejawat semua untuk meluruskan kembali niat kita dalam menjadi seorang dokter. Karena setiap amalan tergantung pada niatnya. Silakan menjadi kaya, silakan menjadi terhormat, asal jangan itu yang menjadi tujuan kita. Dokter terlalu rendah jika diniatkan hanya untuk keuntungan duniawi semata. Mungkin akan sangat susah untuk menggenggam erat idealisme ini nantinya. Namun saya yakin, jika ada kemauan yang kuat dan niat yang tepat, idealisme ini akan terbawa sampai mati. Walaupun harus sendirian dalam memperjuangkannya, walaupun banyak yang mencemooh dan merendahkan. Saya yakin, Allah tidak akan pernah salah menilai setiap usaha dan perjuangan hamba-hamba-Nya. Tidak akan pernah.


Tulisan ini dibuat oleh :
Aditya Putra Priyahita,
seorang yang sangat merindukan sebuah reuni anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di surga nanti

Ok, Semoga bermanfaat dan kita jadi dokter yang Insya Allah seperti secarik surat di atas atau bahkan kita bisa lebih dari itu. Amien.

Oh ya, Kalau dirasa berguna, Silakan sobat share dimana saja secarik surat di atas ke teman teman Anda. Keep " Berbagi itu Indah "



Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Postingan / Artikel yang Serumpun



29 comments:

Obet Poenya said...

FOLLOW SUKSES NO 45, FOLLOW BACK YA GAN..

SKALIAN GAN ADA AWARD DARI ANE BUAT AGAN SILAHKAN DIAMBIL JIKA BERKENAN.

[http://www.shoutmix.com/link.php?go=http://obetmaster7.blogspot.com/2011/06/pemenang-award-best-friend-dari-obet.html]

dok-unimus said...

follow sukses juga di blogmu gambar naruto

yuni agnes lubis said...

wach... insyaallah kita arus mnjalankannya...
karena kita adalah perantara ALLAH tuk mmbantu sesama,bukan memeras sesama.....
semoga allah meridohi jalan kita n" membantu kita dalam hal "blajar"..krna bnyak yg arus kita plajari ;))

dok-unimus said...

Amin, semoga Allah meridhoi dan merahmati apa yang kita kerjakan untuk menjadi seorang dokter yang baik.

vanilaeru said...

Saya bukan dokter dan bukan mahasiswa kedokteran,
tapi udah sempat baca :)

Semangat buat para dokter. dan calon dokter :)

dok-unimus said...

Terima kasih gan atas semangatnya.

Aline魂の said...

ijin kopi :D
thanks for posting, rlly nice one letter

dok-unimus said...

Silakan mbak aline kalau mau dicopy.

Anonymous said...

like this!

alon said...

:)

Dua Box said...

nice blog gan..
salam kenal..

dok-unimus said...

@ All : terima kasih
Amin, semoga Allah meridhoi dan merahmati apa yang kita kerjakan untuk menjadi seorang dokter yang baik.

dokunimus said...

Salam kenal juga

Ladida Cafe said...

utk semua dokter, berbaktilah kepada Tuhan, dan terus berusaha, lakukan yg terbaik ;)

dokunimus said...

Terima kasih atas dukungan semangatnya bagi seluruh dokter Indonesia.
Dan semoga bisa jadi dokter yang berguna bagi agama, negara, dan seluruh umat. Amien.

Salam dari IMKI ( Ikatan Mahasiswa Kedokteran Indonesia )

Example said...

nicee

Pengembangan Diri said...

Betul sekali mas.
memeilih jalan hidup menjadi seorang dokter berarti satu jalan untuk berkorban, berbagi, dan beremapti untuk kebaikan orang lain..
bukan masalah seberapa besar penghasilan atau kedudukan sosial yang kita dapatkan sbg dokter atau yg lainnya. Tapi seberapa ikhlas kita menjalani tugas mulia ini. Kalo sdh begitu, hasil2 seperti harta, kedudukan, reputasi akan menyusul..
bukan begitu mas..
terima kasih

dokunimus said...

@ example : Terima kasih dan amien juga atas doanya.

@ pengembangan diri : Memang betul mas memilih menjadi dokter adalah jalan untuk berkorban, berbagi, dan berempati kepada sesama.
Terima kasih juga sudah menyemangati kami kami mahasiswa kedokteran dan para dokter guna berbakti kepada sesama.

@ All : saya salut juga atas pikiran terbuka para pembaca dokunimus ini.

panduan belajar blog said...

yup, intinya adalah semua bergantung pada niat saat kita menjalankan sesuatu. perbuatan yang kita lakukan belum tentu salah, karena tiap orang punya cara pandang yang berbeda2. tapi, setidaknya kita semua punya standar norma yang baku untuk menilai apakah tindakan kita semua ini benar atau salah.

niat dokter seperti yg dikemukakan di atas adalah benar. kita wajib menolong tanpa pamrih, karena itu lah tugas kita sebagai seorang dokter, fokus untuk menyembuhkan penyakit.

semoga bisa menjadi bahan renungan dan pembelajaran yang baik untuk kita semua. amin. :)

dokunimus said...

Benar itu bang. Jadi makin tambah ilmu nich berkat pemikiran abang di blog ini. Terima kasih.

Salam dokter Indonesia dan dokter seluruh dunia.

CAYO.

Rifi Adzkia said...

Assalamu'alaikum.
Saya Rifi, FK Unmul '10.
Saya suka sekali membaca tulisan di atas. Minta izin utk saya co-pas. Terima kasih ..

dokunimus said...

@ rifki adzkia : silakan kalau mau di copas.
Dan kalau berkenan, sertakan link sumbernya juga ya.
Terima kasih

Anonymous said...

Ikut Berbagi Sob..... :-)
Ijin Nyudul ni Gan.....

penyebab batu ginjal dan pengobatannya said...

haii...salam kenal ya

gejala infeksi saluran kemih said...

makasih gan atas infonya

Anonymous said...

kok seolah-olah dokter itu berjasa banget ya? bagaimana dengann profesi medis lainnya? hmm, dasar Indonesia.... pantas negeri ini banyak ditinggal oleh orang-orang cerdas....

prev dokunimus next dokunimus dokunimus home